Apycom jQuery Menus
RS Husada Utama Surabaya
 
Untitled Document
  Spesialisasi & Layanan  
 
------------------------------------------------
 
Anestesi & Reanimasi
 
------------------------------------------------
 
Andrologi
 
------------------------------------------------
 
Bedah
 
------------------------------------------------
 
Bedah Plastik
 
------------------------------------------------
 
Gigi
 
------------------------------------------------
 
Jantung
 
------------------------------------------------
 
Kandungan
 
------------------------------------------------
 
Kesehatan Anak
 
------------------------------------------------
 
Kulit
 
------------------------------------------------
 
Mata
 
------------------------------------------------
 
Neosurgery
 
------------------------------------------------
 
Orthopedi & Traumatologi
 
------------------------------------------------
 
Paru-paru
 
------------------------------------------------
 
Penyakit Dalam
 
------------------------------------------------
 
Radiologi
 
------------------------------------------------
 
Rehabilitasi Medik
 
------------------------------------------------
 
Saraf
 
------------------------------------------------
 
THT
 
------------------------------------------------
 
Urologi
 
 
  Lokasi Kami  
 
Prof. Dr. Moestopo No.31-35,
Surabaya - 60131
Telp. (031) 501 8335
Fax. (031) 501 8337 / 501 0777
info@husadautamahospital.com
------------------------------------------------
+ Lihat Peta Lokasi
 
     
     
RS Husada Utama Pertama Kali Lakukan Persalinan Waterbirth di Surabaya
Bagi perempuan, melahirkan adalah masa-masa yang dinanti. Hal tersebut juga dirasakan oleh Shintya. Terlebih lagi dirinya merupakan perempuan pertama yang melahirkan dengan metode Waterbirth di kota pahlawan tepatnya di RS Husada Utama.
(foto : Shintya , william beserta buah hatinya)
Wajah ayu Shintya Dewi Lautan di Hari Kartini kemarin (21/04) semakin terlihat cerah. Meskipun tergeletak lemas di salah satu kamar RS Husada Utama Surabaya. Perempuan 28 tahun tersebut tidak nampak seperti orang yang baru saja melahirkan. Malahan dirinya belum beristirahat sama sekali sejak jabang bayi yang bernama Steve Reiner Wijaya lahir pukul 09.15 WIB.

Diceritakan oleh Shintya, dirinya sempat bingung memilih metode persalinan yang tepat untuk kelahiran anak keduanya. Karena Shintya mengaku dirinya termasuk dalam orang yang tidak tahan rasa sakit. Jadilah dirinya meminta rekomendasi pada dokter kandungan yang menanganinya, yakni Dr. Amang Surya Priyanto, SpOG. Saat memasuki usia kandungan ke-delapan bulan. Shintya pun semakin getol berkonsultasi, dan dirinya disarankan mengambil metode waterbirth ini pada persalinan keduanya. Persalinan watrebirth adalah proses persalinan didalam air. Keuntungannya bisa mengurangi rasa nyeri selama proses persalinan berlangsung. " Selama alatnya lengkap, ada dokter yang bisa, dan bisa mengurangi rasa sakit saya mau saja ", ujar alumnus Fakultas Hukum Ubaya tersebut.

Kenapa Shintya tidak memilih sesar? Disebutkan oleh dirinya, bahwa Shintya adalah orang yang penakut dengan alat-alat kedokteran seperti jarum suntik dan lainnya. Semua itu membuat Shintya takut bila mendengar kata operasi. Termasuk operasi sesar.

Pagi hari tepatnya di Hari Kartini 2012, Shintya merasakan perutnya mules. Tanpa pikir panjang, suami beserta keluarga pun membawanya ke RS Husada Utama. Setelah diperiksa pada sekitar pukul 06.00 wib, ternyata Shintya sudah bukaan enam. Dan tidak lama setelah itu, yakni pada pukul 06.30 wib, dirinya pun masuk dalam kolam yang diameternya sekitar 150 cm. Ditemani dengan tiga bidang yang memberikan support, Shintia mengaku menjadi semakin tenang. Saat bukaan enam masuk dalam kolam. Shintya mengaku lebih rileks, tenang, dan nyaman. Bahkan anak pertamanya Shannon Raezellyn Wijaya yang berusia dua tahun ikut menemaninya masuk dalam kolam, dan makan donat. Begitu pula dengan suaminya yang dengan setia menemai delama proses persalinan berlangsung. Bahkan Shintya dan keluarganya masih sempat bercanda sambil makan donat bersama-sama. " Saat bukaan tujuh, saya sempat tertidur sebentar habisnya suasananya nyaman ", imbuh Istri Lie William Wijaya tersebut.

Belum terlihat tanda bayi keluar, Shintya keluar dari kolam, namun ia justru merasa semakin sakit. Diluar dirinya hanya bertahan sekitar 15 menit, dan masuk kembali dalam kolam. ’’Saat itu sudah mulai bukaan delapan, anak saya langsung diungsikan, kolamnya mulai ada darahnya,’’ terang penikmat wisata kuliner ini. Saat itu, Shintya mulai mengejan dan tidak lama kemudian. Dr. Amang Surya Priyanto, SpOG dan Dr. Gede Utomo, SpA pun tiba untuk menolong proses persalinan, bersama ketiga bidan tersebut.

Diungkapkan Shintya, proses keluarnya jabang bayi berlangsung begitu cepat yakni kurang dari sepuluh menit. Dirinya juga tidak teriak sama sekali. " Rasanya lebih licin dan cepat sekali ", tuturnya. Shintya juga hanya mendapatkan jahitan sebesar satu sentimeter. Setelah proses persalinan selesai, Shintya dipindah dalam Ruang VK (kamar bersalin). Namun berselang satu jam, dirinya minta dibawa ke kamarnya sendiri. Shintya mengungkapkan, kondisi fisik dan mentalnya kini dalam keadaan fresh. Tepatnya seperti orang yang tidak baru saja melahirkan. Hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi dua tahun lalu. Saat Shintya baru saja melahirkan Shannon secara normal. shintya menceritakan, proses persalinan normal jauh lebih sakit. Apalagi saat itu dia pertama kali melahirkan. " Saya nggak tau cara mengejan, dan ternyata sakitnya seperti mau mati ", ungkap bungsu tiga bersaudara tersebut.

Suami Shintya, Lie Willam Wijaya menjelaskan, proses persalinan yang ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sewaktu proses kelahiran Shannon yang berlangsung normal, Shintya selalu merintih kesakitan setiap ada kontraksi. Apalagi pada bukaan enam keatas. Hal itu tentu membuat William berasa ikut merasakan penderitaan istrinya selama mengejan. Berbeda dengan persalinan kali ini, Shintya jauh lebih rileks. Bahkan tidak teriak kesakitan sama sekali. " Dia jadi anteng selama proses, saya jadi ikut lega ", tutur Laki-laki asli Balikpapan itu. Hal tersebut ditambahkan oleh Dr. Amang Surya Priyanto, SpOG, bahwa dengan metode waterbirth mempunyai keuntungan yang untuk ibu dan anaknya. Pada ibu, gerak ibu akan lebih leluasa dan rileks karena efek gravitasi dalam air, sirkulasi peredaran darah juga lebih lancar sehingga rasa nyeri akan menjadi minimal. Selain itu, dinding luar vagina akan menjadi lebih elastis bila ada didalam air. Hal tersebut membuat hampir tidak ada sobekan pada vagina. " Tentunya harus dilakukan oleh Dokter Kandungan yang berkompeten, tidak semua bisa melakukannya ", kata Dr. Amang Surya Priyanto, SpOG.

Wakil Ketua I Persatuan Obstetri dan Ginekologi (POGI) Surabaya Dr. Bangun Trapsila, SpOG (K) menuturkan, sebelum ini dirinya belum mengetahui adanya persalinan dengan metode Waterbirth di Surabaya. " Ya, bisa saja ini jadi yang pertama ", tuturnya.
sumber : Jawapos tanggal 22/04/2012
Untitled Document
  Jadwal Klinik  
 
------------------------------------------------
 
Jadwal Klinik
 
 
  Layanan Unggulan  
 
------------------------------------------------
 
RetCam
 
------------------------------------------------
 
CT-Scan 64 Slices
 
------------------------------------------------
 
MRI 1,5 T
 
------------------------------------------------
 
Radiologi Intervensi
 
------------------------------------------------
 
USG 4D
 
 
  Customer Service  
 
------------------------------------------------
 
  Operator 1
 
------------------------------------------------
 
  Operator 2
 
 
  Social Network  
 
 
------------------------------------------------
   
RS Husada Utama
   
  Disclaimer - Kebijakan Isi Website : Seluruh isi website ini (termasuk dan tidak terbatas pada tulisan, gambar, tautan dan dokumen) adalah bersifat informatif
yang tidak ditujukan untuk mengganti nasihat medis, keterangan diagnosis, maupun saran tindakan medis yang dikeluarkan oleh tenaga profesional medis (dokter).
Selalu konsultasikan kesehatan Anda kepada dokter untuk mendapatkan saran medis yang sesuai dengan keadaan Anda.
 
 
Copyright © Husada Utama Hospital Surabaya, 2012.
Best Viewed with Firefox browser in 1024 x 768 screen resolution.