Apycom jQuery Menus
RS Husada Utama Surabaya
 
Untitled Document
  Spesialisasi & Layanan  
 
------------------------------------------------
 
Anestesi & Reanimasi
 
------------------------------------------------
 
Andrologi
 
------------------------------------------------
 
Bedah
 
------------------------------------------------
 
Bedah Plastik
 
------------------------------------------------
 
Gigi
 
------------------------------------------------
 
Jantung
 
------------------------------------------------
 
Kandungan
 
------------------------------------------------
 
Kesehatan Anak
 
------------------------------------------------
 
Kulit
 
------------------------------------------------
 
Mata
 
------------------------------------------------
 
Neosurgery
 
------------------------------------------------
 
Orthopedi & Traumatologi
 
------------------------------------------------
 
Paru-paru
 
------------------------------------------------
 
Penyakit Dalam
 
------------------------------------------------
 
Radiologi
 
------------------------------------------------
 
Rehabilitasi Medik
 
------------------------------------------------
 
Saraf
 
------------------------------------------------
 
THT
 
------------------------------------------------
 
Urologi
 
 
  Lokasi Kami  
 
Prof. Dr. Moestopo No.31-35,
Surabaya - 60131
Telp. (031) 501 8335
Fax. (031) 501 8337 / 501 0777
info@husadautamahospital.com
------------------------------------------------
+ Lihat Peta Lokasi
 
     
     
TRIGEMINAL NEURALGIA HILANGKAN SENYUM KELUARGAKU
SUAMIKU Syamsudin selama 1,5 tahun harus menahan sakit luar biasa akibat suatu penyakit yang dalam dunia medis disebut trigeminal neuralgia. Rasa sakit yang dialami suami saya, tidak hanya membuat dirinya tersiksa, tetapi juga seluruh anggota keluarga. khawatir dan ketakutan, selalu membayangi keluarga kami, karena saat serangan itu datang, dia bisa memukul segala sesuatu yang ada di depannya dengan tujuan untuk melampiaskan rasa sakit yang luar biasa itu.

Selama 1,5 tahun itu, hidupnya trauma dan selalu ketakutan. Kondisi tersebut membuat senyum dan keceriaan keluarga kami hilang, yang ada hanya rasa khawatir, baik itu saat bersama atau sedang sendiri.

Namun setelah berbagai penderitaan itu kami lalui bersama, Allah menunjukkan jalan dengan mempertemukan kami dengan seorang dokter bedah saraf di Rumah Sakit Husada Utama, Surabaya.

Dokter Ananda Haris SpBs, kami yakin ini adalah seseorang yang ditunjuk Allah, untuk membantu menghilangkan segala kekhawatiran dan penderitaan kami.

Segala keraguan dan ketakutan untuk melakukan operasi hilang, begitu bertemu dengan dokter Ananda Haris yang ramah dan sabar menerangkan berbagai kemungkinan yang terjadi, dan risiko operasi.

“Biasanya operasi ini tingkat keberhasilannya 95 persen, namun dokter bukan Tuhan, sehingga mari kita berdoa bersama-sama, kita sholat untuk memberikan kelancaran,” katanya. Kata-kata itu, sangat menyejukkan, dan membuat kami yakin, melalui operasi, ini senyum keluargaku yang hilang bisa segera kembali. Dan Alhmadulilah, setelah melalui operasi sekitar 4,5 jam, kini senyum keluarga kami telah kembali.
Berawal dari...
Rasa sakit tersebut muncul sejak akhir November 2012. Kala itu, selama satu bulan lebih, dia selalu mengeluh sakit gigi, sehingga harus bolak balik ke dokter gigi.

Selama beberapa minggu dalam perawatan dokter gigi, rasa sakit tersebut tidak kunjung sembuh, bahkan dokter telah mencoba bongkar pasang tambalan giginya, dan tidak juga kunjung sembuh. Menurut dokter, ada salah satu giginya yang menggantung, sehingga sulit untuk disembuhkan. Suamikupun akhirnya pindah ke dokter gigi lain. Hingga beberapa kali pindah, dan hasilnya pun tetap sama, sakit giginya tidak kunjung sembuh.

Karena sakit gigi tersebut, akhirnya daya tahan tubuhnyapun berkurang, dan diapun mengalami sakit panas cukup tinggi, sehingga harus rawat inap di salah satu rumah sakit islam swasta di Kota Banjarmasin.

Dokter penyakit dalam mendiaknosa, dia sakit liver, sehingga perlu istirahat yang cukup. Satu minggu dirawat, kondisinya berangsur pulih, dan akhirnya dokter mengizinkannya untuk pulang atau rawat jalan.

Namun, dua hari di rumah, panasnya kembali naik, dan mulai mengalami gejala yang aneh, yaitu terlihat sangat ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dia sakit parah dan harus secepatnya dirawat di rumah sakit kembali.

Beruntung, dua hari kemudian, dokter penyakit dalam yang menanganinya datang, dan menyatakan bahwa dia terkena gejala liver, jadi sakit panasnya tidak terkait dengan penyakit lain.

Setelah mendengarkan penjelasan dokter tentang penyakit yang diderita suami ku ternyata gejala liver, hidup ini tiba-tiba menjadi terasa sangat ringan, air mata tumpah, seakan menghapus segala beban dan kesedihan yang ada, dan tertinggal rasa bahagia dan syukur yang tiada terkira. “Tuhan sangat sayang kepada kami”.
Kembali Mencekam...
Setelah hampir satu bulan dalam perawatan di rumah sakit, akhirnya suamiku diperkenankan pulang, atau rawat jalan.

Kepulangannya ke rumah, ternyata tidak mengakhiri penderitaannya, keluhan sakitnya terasa kembali bahkan semakin sakit.

Rasa sakit pada gigi, yang tidak kunjung sembuh tersebut, semakin hebat, saking sakitnya, diapun sering berteriak-teriak karena tidak kuat menahan nyeri yang luar biasa.

Akhirnya, kami pun datang ke dokter konservasi gigi, yang menurut kami merupakan dokter gigi terhebat di Kalimatan Selatan. Di tangan dokter yang ramah dan murah senyum ini, gigi suamiku dirawat dengan telaten.

Namun, perawatan yang hampir tiap hari dilakukan, ternyata juga tidak membuahkan hasil.

Penyakit yang terus menyerang dengan intensitas yang semakin sering, membuat suamiku ketagihan untuk bertemu dokter. Bahkan dalam satu hari, tidak jarang kami harus mengunjungi tiga dokter, dari pagi hingga malam, kerjaan kami hanya antre di rumah sakit dan tempat praktik dokter. Mulai dokter penyakit dalam, dokter gigi, dokter rehabilitasi medik, bahkan psikiater hingga dokter jiwa juga kami datangi.

“Walaupun sakit, asal ketemu dokter, perasaan saya agak enak,” katanya.

Untuk meringankan beban penderitaannya, saya selalu menuruti dan mengikuti ke mana suami saya akan berobat. Bahkan seperti seorang anak, suamiku tidak pernah mau lepas dari pegangan tanganku. Awalnya dokter mendiagnosa, dia kena penyakit Temporomandibular Joint (TMJ) atau semacam gangguan sendi rahang, sehingga dibelikan alat terapi, ternyata itupun juga tidak banyak membantu.

Serangan sakit yang dikeluhkan suamiku tersebut telah benar-benar merenggut keceriaan keluarga kami. Bagaimana tidak, di mana pun berada, kami sekeluarga selalu merasa tegang dan waspada, khawatir serangan itu tiba-tiba datang.

Pernah suatu hari, saat kami menyeberang jalan bertiga (saya, suami dan anak kami), untuk makan malam di sebuah rumah makan sambil menunggu antrean ke dokter gigi, di tengah jalan tiba-tiba serangan yang sangat hebat datang.Tanpa sadar, suamiku yang berjalan bersama anak semata wayang kami, berhenti di tengah jalan, karena menahan rasa sakit. Dalam waktu bersamaan, ada truk yang melintas. Khawatir terjadi sesuatu, putri kami menarik tangan bapaknya.Diluar dugaan ternyata yang terjadi adalah, putri kami yang baru berumur 10 tahun itu, justru mendapatkan hantaman bapaknya yang sangat keras di paha, hingga memar.

Ya…pada saat terkena serangan, jangan coba-coba kita berada di dekatnya, karena akan terkena pukulan sebagai pelampiasan rasa sakit yang luar biasa yang harus ditahan.

Di rumah pun, kita juga harus selalu waspada, karena begitu serangan terjadi, meja makan, kursi tamu, remote televisi dan lainnya, bisa terkena sasaran.

Serangan tersebut bisa dipastikan datang, saat dia makan maupun saat berwudhu, terkena air sedikit saja, dia langsung teriak kesakitan, terkena hembusan angin juga merasa kesakitan.

Hari-hari keluarga kamipun seperti di neraka, saat bekerja tidak tenang, prestasi belajar putri kami juga terus merosot, dari biasanya rangking pertama, dalam satu tahun itu, terus turun hingga rangking tiga.

Bulan demi bulan pun kami lalui, dan kami pun mulai bisa menaklukkan penyakit tersebut, dengan mencoba mengambil hikmah dari serangan itu.

Tiap kali sakit itu datang, selalu kukatakan, bahwa sakit yang dia derita, hanyalah salah satu cara Tuhan untuk membantu kita dalam melatih kesabaran, dan tenang dalam menghadapi hidup.

Melalui penyakit tersebut, Tuhan ingin mengajari kita untuk mengendalikan diri dari rasa amarah dan berkata-kata keras. Sebab, tiap kali emosi tidak terkontrol dan rasa marah datang, penyakit tersebut langsung menyerang, sehingga pengendalian diri dan sabar menjadi salah satu cara untuk mengendalikan rasa sakit tersebut.

Hingga suatu malam, menjelang lebaran tahun 2013, rasa sakit yang luar biasa datang, dokter langganan kami kebetulan mudik ke Jawa, sehingga seakan tidak ada tempat kami untuk mengadu.

Malam itu, rasa sakit yang diderita, seakan tidak terbendung. Saya pun bingung, kemudian disarankan oleh ibu saya, agar diolesi dengan kencur yang dihaluskan.

Saya pun mencoba resep tradisional dari ibu. Alhamdulillah ternyata bisa mengurangi rasa sakit. Sepanjang malam, suamiku rebahan di pangkuanku sambil pipi kanannya kuoles kencur yang dihaluskan, dengan berbagai macam do’a hingga dia tertidur.

Selama tiga hari tiga malam, saya nyaris tidak beranjak dari tempat tidur. Pikiranku waktu itu berkecamuk, mungkinkah ini detik-detik terakhir kebersamaan kami. Namun setelah tiga malam itu rasa sakitnya terus berkurang. Bahkan berhari-hari, serangan itu tidak pernah datang lagi.
foto: Syamsudin Mappeare bersama istri Ulul Maskuriah
Trigiminal Neuralgia
Setelah berbagai upaya pengobatan kami lakukan, mulai medis, minta doa ke orang soleh hingga ke beberapa orang “pintar”, dan belum juga membuahkan hasil. Saat di Bandung bertemu seorang dokter gigi spesalis ortodonti, yang mendiagnosa, suamiku terkena trigiminal neuralgia, penyakit yang ternyata tidak ada hubugannya dengan sakit gigi.

Dari dokter tersebut, akhirnya kami disarankan untuk berobat ke dokter spesilasi saraf. Alhamdulilah, dalam waktu berbulan-bulan jika meminum obat dari dokter spesialis saraf tersebut, serangan itu tidak muncul.

Ternyata itu hanya sesaat, beberapa bulan kemudian serangan itu muncul lagi, bahkan intensitasnya semakin sering. Berkali-kali pindah dokter spesialis saraf, sakit itu tak juga hilang. Bahkan dokter terus meningkatkan dosis obat yang diberikan, dan ternyata juga tidak membawa hasil. Dalam satu hari hari suamiku harus minum sampai 15 butir obat.

Puncaknya, karena terlalu sakit, hingga dia tidak bisa bicara. Tiap kali membuka mulut, serangan itu langsung datang, dan bila mulutnya sudah terlanjur terbuka, diapun sulit menutupnya.

Akhirnya kamipun mencoba datang ke salah satu dokter bedah saraf di Banjarmasin dan dokter tersebut yakin kalau suamiku terkena serangan trigiminal neuralgia. Hanya ada dua pilihan, menahan rasa sakit tersebut, dan bila tidak tahan, operasi.

“Penyakit itu tidak akan bisa disembuhkan, kecuali operasi, kalau masih bisa menahan, ya tahan aja sakitnya, kalau sudah tidak tahan dioperasi,” katanya.

Mendengar kata operasi pada saraf ke lima di bagian kepala, tepatnya saraf yang ada dibatang otak, membuat kami khawatir, dan terus berupaya untuk berobat alternatif, tetapi rasa sakit semakin tidak tertahankan. “Aku tidak kuat lagi,” katanya setiap kali serangan itu datang.

Kamipun menyerah dan memutuskan operasi, dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Banjarmasin, suamiku dirujuk ke salah satu Rumah Sakit Umum Daerah di Surabaya. Petugas di RSUD kembali merujuk ke Rumah Sakit Husada Utama Surabaya dan di rumah sakit ini suami saya ditangani dokter Ananda Haris SpBs .

Setelah dilakukan pemeriksaan dengan alat MRI dokter yakin, bahwa suamiku terkena trigeminal, dan memang harus dioperasi.

“Berbagai kemungkinan dalam operasi bisa terjadi, bisa terjadi pendarahan di otak, koma bahkan meninggal di meja operasi, tapi yakinlah semua dokter akan berusaha sebaik-baiknya,” katanya. Begitu bertemu dokter Ananda Haris, segala keraguan dan ketakutan terhadap risiko operasi, tidak membuat kami khawatir lagi. Apalagi orangtua, seluruh keluarga, saudara, teman di kantor bahkan atasan suamiku memberikan dukungan doa, yang membuat kami lebih tenang.

Hari itu, dengan hati yang sangat lapang dan tenang, aku melepas suamiku masuk ke ruang operasi, sedangkan aku bersama saudara menunggu di ruang tunggu ICCU. Doa dan sholawat tidak pernah berhenti kami ucapkan, orangtua, saudara, dan teman-teman mengabari bahwa mereka sholat dan berdoa sepanjang operasi berlangsung.

Kabar itu, membuat hati merasa tambah tenang menghadapi detik-detik operasi penyakit, yang selama 1,5 tahun terakhir mambuat kami merasa tertekan dan ketakutan.

Sekitar 4,5 jam telah berlalu, seorang asisten dokter mengabari, bila operasinya berjalan dengan baik, walaupun ada perpanjangan waktu, karena adanya hambatan.

Informasi tersebut membuat hati plong, dan tiba-tiba air mata yang sebelumnya tidak pernah bisa keluar, tumpah tanpa bisa dibendung lagi.

Dua hari di ruang ICCU, pasien bisa di bawa ke ruang perawatan. Akhirnya, kulihat juga senyuman suamiku yang sejak 1,5 tahun ini hilang, dari hari-harinya. Hari itu, seakan dia tidak mau berhenti bicara dan tertawa.

Terima kasih Tuhan, terima kasih dokter, terimakasih seluruh tim medis RS Husada Utama, kini senyum dan canda keluargaku telah kembali. Banyak hikmah yang telah kami petik dari pelajaran hidup kali ini.

Satu hikmah terbesar yang bisa kami ambil adalah, senyuman dan bisa bicara, ternyata adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara, yang mungkin sering kita lupa untuk mensyukurinya. Jangan pernah menyia-nyiakan kenikmatan senyuman dan bicara untuk sesuatu yang tidak berguna.

Kenikmatan yang juga tidak berhenti kami syukuri adalah, di saat-saat kami sangat membutuhkan, Tuhan telah menunjukkan, bahwa kami sekeluarga berada di lingkungan yang tepat, orangtua yang selalu mendoakan dalam setiap sholat malamnya.

Ya…masa-masa kesedihan itu telah berlalu, semoga dengan apa yang telah terjadi, akan membawa kami menjadi seseorang yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih pandai bersyukur, bersama senyuman yang semoga tidak akan pernah lagi hilang. Amin. *
Tulisan Ulul Maskuriah istri dari pasien Syamsudin Mappeare
Untitled Document
  Jadwal Klinik  
 
------------------------------------------------
 
Jadwal Klinik
 
 
  Layanan Unggulan  
 
------------------------------------------------
 
RetCam
 
------------------------------------------------
 
CT-Scan 64 Slices
 
------------------------------------------------
 
MRI 1,5 T
 
------------------------------------------------
 
Radiologi Intervensi
 
------------------------------------------------
 
USG 4D
 
 
  Customer Service  
 
------------------------------------------------
 
  Operator 1
 
------------------------------------------------
 
  Operator 2
 
 
  Social Network  
 
 
------------------------------------------------
   
RS Husada Utama
   
  Disclaimer - Kebijakan Isi Website : Seluruh isi website ini (termasuk dan tidak terbatas pada tulisan, gambar, tautan dan dokumen) adalah bersifat informatif
yang tidak ditujukan untuk mengganti nasihat medis, keterangan diagnosis, maupun saran tindakan medis yang dikeluarkan oleh tenaga profesional medis (dokter).
Selalu konsultasikan kesehatan Anda kepada dokter untuk mendapatkan saran medis yang sesuai dengan keadaan Anda.
 
 
Copyright © Husada Utama Hospital Surabaya, 2012.
Best Viewed with Firefox browser in 1024 x 768 screen resolution.