Apycom jQuery Menus
RS Husada Utama Surabaya
 
Untitled Document
  Spesialisasi & Layanan  
 
------------------------------------------------
 
Anestesi & Reanimasi
 
------------------------------------------------
 
Andrologi
 
------------------------------------------------
 
Bedah
 
------------------------------------------------
 
Bedah Plastik
 
------------------------------------------------
 
Gigi
 
------------------------------------------------
 
Jantung
 
------------------------------------------------
 
Kandungan
 
------------------------------------------------
 
Kesehatan Anak
 
------------------------------------------------
 
Kulit
 
------------------------------------------------
 
Mata
 
------------------------------------------------
 
Neosurgery
 
------------------------------------------------
 
Orthopedi & Traumatologi
 
------------------------------------------------
 
Paru-paru
 
------------------------------------------------
 
Penyakit Dalam
 
------------------------------------------------
 
Radiologi
 
------------------------------------------------
 
Rehabilitasi Medik
 
------------------------------------------------
 
Saraf
 
------------------------------------------------
 
THT
 
------------------------------------------------
 
Urologi
 
 
  Lokasi Kami  
 
Prof. Dr. Moestopo No.31-35,
Surabaya - 60131
Telp. (031) 501 8335
Fax. (031) 501 8337 / 501 0777
info@husadautamahospital.com
------------------------------------------------
+ Lihat Peta Lokasi
 
     
     
1. Bedah Ortognatik (Orthognathic Surgery)
Bedah Ortognatik (Koreksi Rahang)
Tindakan bedah yang dilakukan dengan tujuan untuk meluruskan atau membentuk rahang sehingga diperoleh bentuk rahang yang selaras atau normal. Contoh: pada kasus pasien dengan rahang yang nyakil dapat dilakukan pembedahan sehingga rahang dapat lebih kecil. Koreksi rahang melalui tindakan bedah atau bedah ortognatik di lakukan oleh seorang Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial untuk melakukan koreksi atau perbaikan pada kelainan kecil atau besar pada tulang skeletal rahang yang menyebabkan terjadinya malaoklusi, dengan keuntungan akan memperbaiki fungsi kunyah, fungsi bicara dan bernafas. Tindakan bedah ortognatik selain dapat memperbaiki problem fungsional, juga akan dapat merubah penampilan wajah secara dramatis menjadi lebih baik atau menjadi lebih cantik dan akan berpengaruh positif pada banyak sisi kehidupan dan penampilan seseorang.
Indikasi tindakan bedah ortognatik, adalah:
 
1. Kesulitan mengunyah atau menggigit dan kesulitan menelan.
2. Kelainan sendi rahang (TM-Joint): sakit pada sendi rahang (TM-joint pain), menyebabkan sakit kepala oleh karena problem sendi dan tidak tepatnyya posisiI gigitan rahang atas dan bawah (oklusi).
3. Gigitan terbuka (open bite): tedapat celah antara gigi-gigi  rahang atas dan bawah pada saat  menggigit.
4. Ketidakseimbangan tampilan wajah dari tampilan depan atau samping.
5. Cidera wajah (facial injury) atau defek lahir.
6. Dagu kecil.
7. Dagu panjang sehingga rahang bawah terletak lebih maju dibandingkan rahang rahang atas (seperti cakil).
8. Protusi rahang seperti pada ad. 7, yang menyebabkan untuk menutup bibir diperlukan penegangan otot bibir.
9. Bernafas melalui mulut kronis sehingga menyebabkan mulut menjadi kering, akibatnya akan dapat menyebabkan meningkatnya kejadian karies gigi dan kelainan jaringan penyangga gigi (periodontal).
10. Sleep Apnea (breathing problems during sleeping, termasuk snoring=mendengkur).
Siapa yang memerlukan Bedah Ortognatik ?
 
1. Seseorang dengan kelainan tulang rahang (skeletal) sehingga menyebabkan gangguan oklusi atau gigitan yang tidak dapat dilakukan perawatan secara ortodontik.
2. Melalaui tindakan bedah ortognatik akan dapat diperoleh hasil perbaikan bentuk rahang, ketidakselarasan hubungan anatara rahang atas dan rahang bawah, perbaikan pada malaoklusi yang merupakan penyebab terjadinya kesalahan gigitan antara gigi rahang atas dan bawah.
3. Pada beberapa kasus dimana terjadi perbedaan kecepatan pertumbuhan antara rahang atas dan rahang bawah sehingga bentuk dan besar rahang atas dan rahang bawah tidak seimbang.
4. Ketidak seimbangan bentuk rahang oleh karena cacat lahir (birth defect).
 
Gambar 1 & 2
2. Dental Implant
 

Merupakan salah satu teknik rehabilitasi pembuatan gigi tiruan yang dilakukan dengan cara melakukan penggantian akar gigi menggunakan dental implant. Pemasangan dental implant dilakukan dengan cara menanamkan dental implant tersebut  ke dalam tulang rahang. Dapat dilakukan di rahang atas maupun di rahang bawah. Selanjutnya di atas dental implant tersebut dipasang mahkota gigi sesuai dengan bentuk gigi yang akan digantikannya.
Secara umum pemasangan dental implant dilakukan 2-2.5  bulan setelah pencabutan gigi, dimaksudkan karena luka pada tulang bekas pencabutan gigi telah sembuh dan tulang baru yang sehat telah terbentuk  sehingga dental implant akan dapat dipasang dengan baik. Hal ini dimaksudkan, dental implant dapat terpasang dengan baik  di tulang dan dapat diperoleh primary stability, yaitu terpasangnya dental implant secara kencang pada tulang rahang di awal pemasangan. Primary stability diperlukan agar proses  penyatuan antara dental implant dengan tulang rahang melalui proses yang disebut dengan osseointegration.dapat berlangsung dan proses ini akan berjalan dalam kurun waktu antara 2-2.5 bulan setelah dental implant terpasang. Setelah dental implant mengalami osseointegrasi, tahapan selanjutnya adalah pemasangan mahkota gigi yang didahului dengan pemasangan bagian di atas dental implant yang disebut dengan abutment  implant.
(catatan: terjadinya osseointegrasi dental implant dan tulang disekitarnya merupakan penentu keberhasilan pemasangan suatu dental implant).

Pada banyak kasus pemasangan dental implant dapat dilakukan segera setelah pencabutan gigi dan dapat diperoleh hasil yang baik dalam pencapaian osseointegrasi. Teknik pemasangan dental implant semacam ini disebut dengan Immediate implant placement (Dasar pemikirannya dapat dijelaskan bahwa luka di tulang rahang bekas pencabutan gigi secara natural akan terisi oleh pertumbuhan tulang baru, sehingga bila dental implant dipasang segera setelah pencabutan gigi, maka jaringan tulang disekeliling soket gigi  akan juga tumbuh disekeliling dental implant seperti halnya pada luka bekas pencabutan gigi normal sehingga  dengan sendirinya dental implant tersebut akan tertutup oleh pertumbuhan tulang baru tersebut).
Dengan demikian teknik ini dapat dipakai sebagai teknik pemasangan dental implant dengan mempertimbangan akan memperpendek waktu kunjungan ke dokter dibandingkan apabila dental implant dipasang menunggu luka bekas pencabutan gigi dibiarkan sembuh dahulu baru kemudian dental implant dipasang.
Pada banyak kasus, pemasangan dental implant dapat dilakukan pada kasus emergensi (misalnya:  kehilangan gigi oleh karena sesuatu hal (mis: kecelakaan) dimana gigi harus dilakukan pencabutan  dan dental implant dapat segera dipasang melalui teknik immediate dental  implant placement.
Immediate dental implant  placement  tidak diindikasikan pada luka bekas gigi yang mengalami infeksi. Sangat baik bila dilakukan pada gigi-gigi anterior atau gigi depan dan sebaiknya sangat dipertimbangkan untuk dipasangkan gigi-gigi posterior atau gigi geraham.

Ilustrasi Dental Implant yang dipakai sebagai penyengga gigi tiruan jembatan.
3. Operasi Gigi Geraham ke-3 Tertanam (Wisdom Tooth Removal)
  Semua gigi permanen yang tidak dapat tumbuh disebut dengan gigi yang mengalami impaksi. Semua jenis gigi dapat memiliki kemungkinan untuk tidak dapat tumbuh. Tersering adalah gigi geraham ke-3 rahang bawah dan rahang atas, gigi kaninus (taring) dan gigi premolar.
Istilah Wisdom teeth dipakai untuk gigi geraham ke-3 rahang bawah dan merupakan gigi terakhir dan tumbuh paling akhir. Secara medis gigi wiadom teeth disebut dengan gigi molar ketiga. Gigi ini sering kali memerlukan tindakan pengambilan dikarenakan arah tumbuhnya yang salah. Sebagian besar cara pengambilan hanya dapat dilakukan melalui tindakan operasi. Hal ini dikarenakan sebagian atau seluruh bagian gigi masih tertanam di tulang rahang, sehingga pengambilan gigi tersebut dengan cara melakukan pencabutan biasa tidak mungkin dilakukan.
Teori terjadinya gigi geraham ke-3 tidak dapat tumbuh (mengalami impaksi):
Pada umumnya gigi geraham ketiga  akan tumbuh menembus gusi pada usia puluhan atau di awal usia 18-20-an dan karena ke- 28 gigi-gigi permanen lainnya sudah tumbuh keseluruhannya, sehingga seringkali tidak diperoleh cukup tempat untuk tumbuh karena tertahan oleh gigi molar ke-2 di depannya. Sehingga gigi akan tumbuh sebagian, atau salah arah. Keadaan semacam ini dikenal dengan sebutan gigi tertanam atau gigi impaksi.
Ada teori lain yang mengatakan, bahwa apabila benih gigi molar ke-3 belum terbentuk di rahang bawah di usia antara 4  - 5 tahun maka terdapat kemungkinan bahwa gigi geraham ke-3 tersebut tidak akan mempu untuk dapat erupsi karena bagain tulang di atas gigi tersebut telah cukup keras untuk dapat ditembus dalam suatu proses  erupsi gigi geraham ke-3 tersebut.
Secara garis besar terdapat ber-aneka tipe gigi impaksi :
- Mesial Impaksi  :
Apabila gigi molar ke-3 tumbuh miring membentuk sudut terhadap gigi di depannya.
- Vertikal Impaksi :
Gigi molar ke-3 tumbuh dalam arah vertikal tetapi tertahan oleh gigi di depannya atau tidak terdapat cukup tempat untuk tumbuh karena ruang di belakang gigi  molar ke-2 terlalu sempit.
- Horizontal Impaksi :
Gigi molar ke-3 tumbuh dalam arah horizontal terhadap gigi molar ke-2.
- Distal Impaktion :
Gigi molar ke-3 tumbuh terbalik ke arah belakang dan terjepit dalam posisi tersebut.
Dari keempat posisi tersebut di atas letak gigi molar ke-3 impaksi dapat dapat dibagi lagi menurut kedalamannya : Terletak di atas leher gigi atau terletak di bawah leher gigi geraham di depannya.
Gigi impaksi di rahang atas juga seringkali diketemukan dan seringkali juga dianggap sebagai penyebab timbulnya gangguan kesehatan seperti halnya gigi impaksi di rahang bawah.
Mengapa gigi tertanam atau impaksi harus diambil ?
Tidak semua orang yang memiliki gigi impaksi memiliki gangguan kesehatan yang berkaitan dengan gigi impaksinya tersebut, tetapi gigi impaksi sering menimbulkan masalah bagi kebanyakan individu.
Beberapa hal yang sering dikeluhkan pada pasien dan diketemukan dengan gigi impaksi :
 
- Cephalgia (sakit kepala), migraine, pusing.
- Kaku kuduk,  nyeri pundak dan punggung.
- Nyeri sendi-sendi;Beberapa pasien melaporkan jari-jari tangan merasa kaku dan sakit pada saat digerakkan di pagi hari.
- Rasa lemas pada tungkai (kaki), sampai dapat terjatuh karena merasa lemas.
- Rasa sakit pada sendi lutut.
- Dispepsia (gangguan lambung): sering kali menyebabkan timbulnya gangguan lambung ringan sampai berat sampai penderita mengalami muntah-muntah.
- Meskipun sangat jarang, dilaporkan adanya gangguan penglihatan dan gangguan irama jantung.
- Sebagai penyebab kerusakan gigi di depannya karena seringnya terjadi food impaction = makanan yang terselip diantara gigi geraham ke-3 dan ke-2.
- nfeksi  dengan gradasi timbulnya nyeri ringan sampai hebat dan terjadi infeksi bernanah..
- Seringkali gigi geraham ke-3 diketemukan dengan adanya kista jenis Dentigerous Cyst (kista dentigerous).
- Diketemukan gigi geraham ke-3 dalam masa tumor rahang jenis Ameloblastoma dimana untuk perawatan tumor jenis ini memerlukan tindakan seringkali memerlukan tindakan pembedahan radikal yaitu pemotongan rahang.
- Infeksi berulang-ulang pada mukosa atau gusi disekitar gigi geraham ke-3 selalu dikhawatirkan dengan timbulnya perubahan menjadi keganasan.
- Infeksi kronis : pada pemeriksaan darah sering kali diketemukan nilai Laju Endap Darah (LED) . Pasien dapat mengalami demam berualang-ulang tanapa diketahui sebabnya.
4. Perawatan tumor rahang (Ameloblastoma; Epulis; Kista)
  Ameloblastoma merupakan tumor jinak odontogen yang berasal dari sisa sel pembentuk gigi, yaitu bagian yang disebut dengan bagian sel pembentuk jaringan enamel dan disebut dengan Epithelial rests of Mallasez. Diketemukan pertama kali oleh Falkson 1879 dan selanjutnya dijabarkan secara lebih terperinci oleh Mallasez dengan sebutan Adamantinoma. Selanjutnya Churchill menyebutkan kembali dengan nama Ameloblastoma  pada tahun 1934.
Merupakan jenis tumor rahang yang berasal dari sisa sel pertumbuhan pembentuk gigi yang  tumbuhnya bersiifat  infiltratif dan ekspansif tetapi jinak. Dapat tumbuh dengan dimensi atau ukuran yang sangat besar. Pada prinsipnya,tumor jenis ini memerlukan perawatan yang radikal, dikarenakan mudah mengalami rekuren atau tumbuh kembali karena sifatnya yang infiltratif tersebut. Dapat tumbuh di rahang atas maupun bawah, tetapi di rahang bawah memiliki angka kejadian lebih tinggi.
Dapat tumbuh dan diketemukan di segala usia, pada umumnya tumor jenis ameloblastoma diketemukan dalam ukuran yang  sudah membesar sehingga melibatkan struktur tulang rahang secara luas. Sehingga dalam perawatannya sampai harus  diperlukan untuk membuang sebagian dari bagian rahang yang terlibat tumor tersebut. Pasien termuda yang pernah saya ketemukan dan harus dilakukan pembedahan adalah berusia 4.5 tahun.
Untitled Document
  Jadwal Klinik  
 
------------------------------------------------
 
Jadwal Klinik
 
 
  Layanan Unggulan  
 
------------------------------------------------
 
RetCam
 
------------------------------------------------
 
CT-Scan 64 Slices
 
------------------------------------------------
 
MRI 1,5 T
 
------------------------------------------------
 
Radiologi Intervensi
 
------------------------------------------------
 
USG 4D
 
 
  Customer Service  
 
------------------------------------------------
 
  Operator 1
 
------------------------------------------------
 
  Operator 2
 
 
  Social Network  
 
 
------------------------------------------------
   
RS Husada Utama
   
  Disclaimer - Kebijakan Isi Website : Seluruh isi website ini (termasuk dan tidak terbatas pada tulisan, gambar, tautan dan dokumen) adalah bersifat informatif
yang tidak ditujukan untuk mengganti nasihat medis, keterangan diagnosis, maupun saran tindakan medis yang dikeluarkan oleh tenaga profesional medis (dokter).
Selalu konsultasikan kesehatan Anda kepada dokter untuk mendapatkan saran medis yang sesuai dengan keadaan Anda.
 
 
Copyright © Husada Utama Hospital Surabaya, 2012.
Best Viewed with Firefox browser in 1024 x 768 screen resolution.